Jakarta Menuju Kemacetan Total


Kemacetan di Jalan Gatot Subroto

Jakarta akan macet total. Pernyataan tersebut semakin hari semakin mendekati kenyataan. Kemacetan bukan hanya terjadi di jalan-jalan protokol di Jakarta. Akan tetapi, kemacetan telah terjadi hampir di seluruh jalan-jalan yang ada di Jakarta bahkan jalan-jalan yang ada di Jabodetabek.

Tanda-tanda dari kemacetan total ini sudah dapat terlihat di Jakarta yaitu :

  • Waktu tempuh yang semakin lama walaupun jarak yang ditempuh relatif dekat.
  • Kemacetan tidak hanya terjadi pada “peak-hours” tetapi juga hampir terjadi secara merata di jam-jam selain jam “peak-hours”. Jam “peak hours” yang dimaksud disini biasanya adalah ketika jam berangkat kantor pada pagi hari dan jam pulang kantor pada sore hari.
  • Kemampuan dan volume suatu persimpangan jalan dalam menyalurkan arus lalu-lintas kendaraan sudah tidak memadai. Hal ini ditandai dengan seorang pengendara dapat beberapa kali tertahan di lampu merah yang lebih dari satu siklus lampu merah. Artinya, pengendara harus melalui persimpangan tersebut tidak hanya harus menunggu 1x lampu merah tetapi dapat mengalami lebih dari 2x lampu merah untuk melalui suatu persimpangan.

Permasalahan utamnya lagi-lagi klasik, pertumuhan kendaraan bermotor di Jakarta lebih cepat daripada pertumbuhan jalan di Jakarta. Pertumbuhan kendaraan bermotor di Jakarta rata-rata per tahun sebesar 9 % atau sebesar 1.172 unit kendarann setiap harinya. Jumlah ini terbagi dalam 186 unit kendaraan roda empat dan 986 kendaraan roda dua. Bandingkan dengan pertumbuhan jalan di Jakarta yang hanya sebesar 0,01 % per tahun. Perbedaan yang cukup signifikan bukan?. Hal ini yang selalu dijadikan “kambing hitam” oleh Pemda DKI dalam masalah kemacetan di Jakarta. Tetapi jika jhal ini terus dibiarkan, akan menjadi apa Jakarta beberapa tahun yang akan datang?

Salah satu hal mendasar yang menyebabkan Jakarta macet adalah kebijakan (policy) dan kemauan politik (political will) dari Pemda DKI sendiri yang “setengah-setengah” dalam mengimplementasikan kebijakannya. Jakarta sebenarnya telah memiliki road map untuk pembangunan angkutan masal untuk mengatasi penyakit “kronis” kemacetan ini. Pembangunan angkutan masal yang dimaksud terdiri dari beberapa moda yaitu :

  1. Bus Rapid Transit (BRT)
  2. Light Rapid Transit (LRT)
  3. Waterway
  4. Mass Rapid Transit (MRT)

Kita lihat apa saja realisasi yang telah dilakukan oleh pemda DKI untuk kebijakan pembangunan angkutan masal yang telah disebutkan di atas.

Bus Rapid Transit (BRT)

Busway Menerobos Kemacetan di Jakarta

Bus Rapid Transit di Jakarta diwujudkan dengan dibangunnya beberapa koridor Bus Transjakarta atau biasa juga disebut dengan Busway. Sejauh ini telah beroperasi 9 koridor busway dari 15 koridor yang direncanakan. Busway ini sebenarnya memberikan harapan bagi warga ibukota untuk menjawab solusi kemacetan yang ada karena memiliki keunggulan dari bus umum lainnya. Busway dilengkapi dengan pendingin udara, waktu tempuh yang relatif cepat dibanding kendaraan umum lainnya, dan memilki jalur khusus sehingga tidak terkena dampak macet. Hal ini dapat dilihat dari daya angkut dan volume penumpang busway yang meningkat setiap tahunnya yaitu sebesar 10%-15% tiap tahunnya. Hal ini dapat dilihat dari grafik sebagai berikut :

Jumlah Penumpang Busway

Terlihat bahwa setiap tahunnya jumlah penumpang busway selalu meningkat. Hasil penelitian Institute Transportation and Developement Policy (ITDP) Indonesia, perpindahan  Hasil penelitian Institute Transportation and Development Policy (ITDP) Indonesia, perpindahan pengguna mobil pribadi ke busway mencapai 14 persen. Direktur ITDP Indonesia Fatimah Sari Nasution menyatakan, bus Transjakarta merupakan angkutan umum tertinggi yang memindahkan pengguna mobil pribadi dari seluruh program serupa di penjuru dunia yang diasistensi oleh ITDP. Beberapa penelitian, termasuk dari JICA mencatat angka 14 persen perpindahan dari pengguna mobil pribadi ke bus Transjakarta.

Akan tetapi, setelah dicermati bahwa dua tahun terakhir atau beberapa tahun yang akan datang  peningkatan jumlah penumpang diprediksi akan stagnan, hal ini disebabkan oleh beberapa hal yang menurunkan kualitas pelayanan Busway, diantaranya waktu tempuh bus dari satu halte ke halte lain semakin lama sebagai akibat dari tidak sterilnya jalur busway, kurangnya jumlah bus dibandingkan dengan tingginya jumlah penumpang sehingga penumpang terpaksa penuh sesak di dalam bus, terbatasnya pengisian tempat pengisian Bahan Bakar Gas (BBG) sehingga busway lebih lama menunggu di tempat pengisian BBG sehingga banyak penumpang yang terlantar, dan menurunnya kualitas prasarana busway seperti shelter busway yang rusak serta jembatan menuju shelter yang tidak nyaman. Di samping itu, tidak berjalannya sistem feeder busway menyulitkan penduduk yang tinggal di daerah suburban di daerah Bodetabek kesulitan untuk mencapai shelter busway terdekat, tidak adanya gedung parkir di sekitar shelter membuat pengguna kendaraan pribadi yang tinggal di daerah suburban enggan untuk berpindah moda dari kendaraan pribadi untuk menggunakan busway yang akan menuju pusat kota. Pengoperasian busway sebenarnya memiliki 15 koridor. Akan tetapi, koridor IX-XV belum beroperasi. Berikut ini adalah gambar dari 15 koridor busway yang akan dan telah beroperasi :

Denah Koridor Busway I-IV

Light Rapid Transit (LRT)

Light Rapid Transit (LRT) yang direncanakan untuk DKI Jakarta adalah pembangunan monorail. Monorel Jakarta adalah sebuah sistem MassTransit dengan kereta rel tunggal (monorel) dengan jakur elevated, yang kini pembangunannya tersendat. Rencananya monorail ini terdiri dari dua koridor yang melintas di dalam kota yaitu :

  • Blue Line : Kampung Melayu-Casablanca-Tanah Abang-Roxy (13 km)
  • Green Line : Semanggi-Casablanca-Kuningan-Semanggi (14 km). Koridor ini akan mengelilingi segitiga emas Jakarta dimana terdapat pusat kawasan bisnis dan perkantoran (Central Business District).

Trayek Monorail Dalam Kota Jakarta

Pada pengembangan berikutnya, monorail akan dikembangkan hingga ke kota-kota penyangga yang ada di sebelah barat DKI Jakarta yaitu kota Tangerang dan di sebelah timur yaitu kota Bekasi yaitu :

  • Jakarta-Bekasi-Cikarang (18 km-30 km)
  • Jakarta-Tangerang-Karawaci (16 km- 25 km)

Tetapi apa yang terjadi sekarang adalah pembangunan tersebut tersendat karena tidak adanya dana. Hal ini dapat dilihat dari terbengkalainya pembangunan tiang pancang di kawasan Kuningan.

Pembangunan Tiang Pancang Monorail yang Terbengkalai

Waterway

Shelter Waterway Dengan Dua Buah Kapal

Pembangunan angkutan air di Banjir Kanal Barat (BKB) sepanjang 1,7 km saat ini tidak beroperasi lagi karena berbagai faktor antara lain sarana jembatan yang terdapat di sepanjang aliran itu banyak yang tidak memadai karena tergolong pendek sehingga sulit dilalui kapal, banyaknya sampah yang terdapat di BKB sehingga sering tersangkut ke dalam baling-baling kapal yang digunakan yang mengakibatkan perjalanan kapal terhambat, debit air yang tidak stabil yaitu deras dan tinggi pada musim hujan dan dangkal pada musim kemarau, tidak terintegrasinya angkutan air ini dengan angkutan masal lainnya sehingga tidak banyak masyarakat yang menggunakannya.

Angkutan air di BKB yang diresmikan Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso (saat itu) pada tanggal 6 Mei 2007 beroperasi dari Dukuh Atas-Halimun hingga Karet dan sebaliknya Karet-Halimun-Dukuh Atas. Tarif angkutan itu Rp 1.500 per orang untuk sekali jalan. Pada hari Sabtu dan Minggu angkutan air tersebut dibuka sejak pukul 07.00 sampai 09.00 dan pukul 16.00 sampai 18.00.Namun, proyek yang menghabiskan dana hampir Rp 200 miliar ini tidak berjalan lama dan terkesan terbengkalai.

Mass Rapid Transit (MRT)

Proyek MRT DKI Jakarta (Mass Rapid Transit) antara Kota ke Lebak Bulus akan dibangun dalam dua jenis lintasan, Proyek MRT JAKARTA ini telah ditanda tangani di Jakarta 25 Maret 2009 dengan tahap petama 4 stasiun bawah-tanah dan 8 stasiun layang. Kedua jenis lintasan itu adalah :

  • Kota-Dukuh Atas (7 km di bawah tanah/subway).Akan dibangun subway mengingat jalur ini lebih memungkinkan dengan subway dengan alasan teknis yaitu banyaknya rintangan yang berbentuk persimpangan, padatnya lalu lintas di sepanjang koridor tersebut. Dari Dukuh Atas ke Monas dapat dimanfatkan di bawah jalur hijau tengah Jl Thamrim, sedangkan di Monas juga akan memanfatkan jalur tengah jalan, kemudian dari Harmoni sampai Kota dapat memanfatkan di bawah Kali dan jalan (Hayam Wuruk/Gajah Mada). Salah satu metode untuk membangun lintasan  di bawah suatu litasan jalan atau kali adalah open cut-and-cover methods (digali terbuka kemudian ditutup), sedangkan untuk yang tidak memungkinkan secara ini dipakai deep bore tunneling methods (pengeboran terowongan bawah tanah).
  • Dukuh Atas-Lebak Bulus (14 km di atas permukaan tanah/elevated). Akan dibangun layang (elevated) di sepanjang koridor tersebut.

Permasalahan klasik yang selalu terjadi adalah lemahnya “political will” dari pemda DKI Jakarta sendiri dengan tidak adanya dukungan dana dan tindakan yang tidak pro untuk pembangunan angkutan masal itu sendiri di DKI. Tindakan yang sangat bertolak belakang untuk pembangunan dan pengembangan angkutan masal di DKI adalah perencanaan pembangunan enam ruas tol baru dengan konstruksi jalan layang. Padahal dengan adanya penambahan jalan baru dalam bentuk jalan tol tersebut merangsang untuk adanya peningkatan kepemilikan kendaraan pribadi dan memperparah terjadinya kemacetan. Keenam ruas tol tersebut adalah :

  1. Ruas jalan tol Semanan-Sunter
  2. Ruas Sunter-Bekasi Raya. Ruas Semanan-Sunter dan Sunter Bekasi Raya dilelang sebagai satu paket pembangunan dan pengelolaan. Kedua ruas jalan tol itu sepanjang 28,88 kilometer dan memerlukan investasi sekitar Rp 17,13 triliun.
  3. Ruas Duri Pulo-Kampung Melayu (11,38 km) yang memerlukan dana investasi sebesar Rp 5,96 triliun.
  4. Ruas Kampung Melayu-Kemayoran (9,65 km) yang memerlukan dana Rp 6,95 triliun.
  5. Ruas Ulujami-Tanah Abang (8,27 km) yang memerlukan dana investasi sebesar Rp 4,25 triliun.
  6. Ruas Pasar Minggu-Casablanca (9,56 km) yang memerlukan dana Rp 5,71 triliun.

Sungguh aneh dan miris, apakah ada lobi-lobi dari perusahaan-perusahaan otomotif internasional terhadap Pemerintah Indonesia untuk terus dibangunnya jalan tol di dalam kota yang tentunya akan memberikan banyak keuntungan bagi perusahaan-perusahaan tersebut dan memberikan banyak kerugian baik materil maupun imateril bagi penduduk Indonesia khususnya warga Jakarta sekaligus menggagalkan pembangunan angkutan masal di Indonesia pada umumnya dan di Jakarta pada khusunya.


Tentang Lucky dc

Civil Engineering Student
Pos ini dipublikasikan di Megapolitan. Tandai permalink.

21 Balasan ke Jakarta Menuju Kemacetan Total

  1. aditkus berkata:

    udah pindahin aja ibukotanya

    • Lucky dc berkata:

      Wah klo mau dipindahkan harus dihitung dulu kali ya, hematan mana antara pemindahan atau penataan angkutan masal dan tata ruang kotanya?
      Perlu ekonom dan ahli planologi neh heheheh…😉

      • aditkus berkata:

        klo ga salah ada artikel di kompas yang menyebutkan kerugian akibat kemacetan dibandingkan dengan pemindahan ibukota cuman rugi di awal namun seterus malah untung. Birokrat Indo ga punya visi kedepan jadi semua dilihat masa kini, contoh saja monorail.

  2. alqonews berkata:

    tu mnjadi suguhan pemandangan kota mitropolitan kang,,,,,,!!

    • Lucky dc berkata:

      Hehehe ….😉 Tapi kayanya engga semua kota besar macet kaya Jakarta. Coba klo ke Singapura, Tokyo, atau Seoul. Kota mereka engga penuh sesak dengan kendaraan bermotor karena angkutan masalnya top gan…🙂

  3. اسوب سوبرييادي berkata:

    saya jadi khawatir daerah saya juga jadi begitu…. hm….

  4. ImRoée berkata:

    setidaknya bukan pengemis yang berserakan di mana2!

  5. wihihi… serem juga jakarta… untung saya nggak tinggal di sana…

  6. Phie berkata:

    Ck.ck.ck.. Ndak bisa bayangkan kehidupan saya kalau di Jakarta.
    Ruwet bin njlimet.. trus mumet, hehe😀

  7. susiloadysaputro berkata:

    Jakarte..Jakarte,,

    moga2 segera bisa dituntaskan..amiinnn

  8. kangmas ian berkata:

    wah saya taunya busway aja mas wkwkw
    ternyata banyak juga y alternatifnya walau terkesan main-main dan malah tetap saja g dapat solusi untuk keluar dari masalah kemacetan ini..
    di bogor juga sama sering macet tapi di titik2 tertentu ^^

  9. Fahmi berkata:

    kapan yaah jakarta punya subway….

  10. adhe dian berkata:

    Menghadapi kemacetan di Jakarta sama dengan makan buah simalakama, disatu sisi pemerintah tidak mau kehilangan bea dan pajak kendaraan sehingga tidak membatasi produksi kendaraan bermotor, disisi lain pemerintah setengah hati untuk membuat perda yang dpt mengurangi kemacetan spt penggunaan plat nomor ganjil atau genap untuk kendaraan yang beroperasi dijalan raya. Kalau penggunaan plat nomor ganjil atau genap itu sudah dapat mengurangi minimal sepertiga dari jumlah kendaraan yang lalu lalang di jalan

  11. Ping balik: Permasalahan Lalu Lintas | Kur

  12. Pablo berkata:

    The coffee constantly inclinations absolutely fantastic made because of this and also really will offer you
    a jolt in the morning but it really will a strong maker not the coffee maker so not best if
    you like the cup of coffee each day. Precisely what is the ideal drink of
    coffee without the great coffee maker? whenever you are taking the hard
    work in order to pick out the best high quality of coffee beans, find the favorite roast, and locate the perfect blends, you need
    to get a hold of the coffee maker that will .

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s